Bagi sebagian kita yang notabene adalah karyawan, baik yang punya jabatan maupun karyawan biasa tetntunya akan mendapatkan penghasilan rutin setiap bulannya berupa gaji pikok, insentif , bonus dll. Apa yang kita lakukan dengan penghasilan yang kita peroleh, tentunya yang paling besar dan utama menyedot penghasilan kita adalah belanja rutin keluarga...dari mulai bayar bulanan anak sekolah, listrik, air, kursus anak2 ,cicilan kendaraan , cicilan rumah......cicilan kartu kredit akibat kita terjebak berbagai rayuan barang kebutuhan yang tidak utama ......seolah olah murah kl nyicil perbulan, tetapi begitu jatuh tempo tagihan......kita sering terkejut kejut, begitu menyadari jumlah yang harus dibayar cukup besar, karena keinginan kita memiliki benda benda yang hanya sekedar memenuhi lifestyle tidak terbendung.
Wal hasil, setelah dipotong sana sini, masih tersisa sedikit,....sedikit sekali untuk ukuran pekerja kantoran yang tiap hari turun naik mobil ber AC....kantor Gedung Tinggi Ber AC, kita sering terlihat seperti orang kaya???
Benarkah kita cukup bisa dibilang kaya? anda sendiri yang harus menjawab. Tetapi ada metode sederhana untuk bisa melihat apakah kita cukup memiliki kekayaan (kalau tidak dibilang kaya), yaitu berapa besar yang tersisa dari penghasilan kita setelah dipotong seluruh kebutuhan pokok plus lifestyle kita. Artinya berapa aset kita yang ada dalam bentuk(tabungan, deposito, cash money, properti, kendaraan atau barang investasi lainnya).
Investasi ini sangat penting bagi kita sebagai pekerja yang sewaktu-waktu sumber penghasilan kita bisa terputus mendadak akibat (PHK atau alasan lainnya), nah pada saat ini kita sangat membutuhkan aset kita yang sesungguhnya yang bisa kita gunakan untuk menyambung hidup at least sampai 2 tahun, sampai kita mendapat pekerjaan baru atau kita telah siap dengan menjadi pengusaha mandiri.
Selain menabung kita juga harus sudah mulai belajar berinvestasi, karena menabung sangat berbeda dengan investasi, dimana menabung cukup taruh uang kita di Bank, dengan resiko akan termakan inflasi, apalagi inflasi dinegara kita cukup tinggi, artinya menabung secukupnya saja (untuk kebutuhan mendadak saja), kalau tidak siap siap anda kecewa ( nilai yang ada simpan 10 atau 15 tahun yang lalu) bila dibandingkan dengan nilai hari ini mungkin nilainya tidak lebih dari separonya. Ini tidak saja berlaku pada tabungan, tapi juga asuransi dan lain sebagainya.
Hal lain yang perlu kita pertimbangkan kalua kita sebagai muslim tentunya adalah , bahwa menyimpan uang di Bank haruslah ditujukan untuk kegiatan mempermudah transaksi dan bukan untuk mengharapkan Bunga.
Saat ini memang hampir seluruh aktivitas perekonomian kita dari segala aspek sangat sulit untuk dikatakan terbebas dari unsur Debu Riba, dari sistem perbankan, asuransi, jaminan sosial -masih sebagian besar dioperasikan dengan cara konvensional (investasi berbasis bunga), kecuali lembaga perekonomian dengan basis syariah yang jumlahnya masih sangat terbatas.
Meski sulit, tapi kita harus bisa menghindari lingkaran debu Riba disekitar kita, oleh karena itu sebisa mungkin kalau kita ingin berinvestasi pilihlah model yang membuat kita tidak terjebak dalam lingkaran debu riba yang semakin dalam.
Investasi adalah cara menabung dengan cara lebih cerdas , bisa dalam bentuk membeli logam mulia (emas murni misalnya), kalau saja kita punya kesempatan untuk berinvestasi dalam bentuk emas 10 tahun yang lalu, maka hari ini nilanya sudah naik sekitar 300% (hari ini harganya Rp436,000/gram) bandingkan dengan 10 tahun lalu yang mungkin hanya Rp 120,000/gram.
Tetapi dalam berinvestasi kita juga harus memikirkan faktor syariat, apabila kita sebagai muslim sudah barang tentu harus mengeluarkan Zakatnya apabila simpanan emas kita telah mencapai nisabnya. Demikian juga kita tidak boleh menyimpan emas untuk spekulasi dalam jumlah besar (karena akan termasuk golongan orang yang menumpuk numpuk harta, dan Alloh tidak menyukai golongan tersebut).
Bagi kita yang hanya sebagai pekerja atau karyawan, rasanya kecil peluangnya untuk bisa berinvestasi dalam bentuk emas yang cukup besar. Lalu model investasi apa yang paling cocok buat ukuran kantong kita?
Tentunya masih banyak model investasi yang bisa dilakukan untuk ukuran kantong yang sangat terbatas, misalnya beli rumah baru (melaui kredit tentunya, pilih Bank yang memiliki fasilitas syariah misalnya), beli tanah, ruko atau yang lainnya , intinya investasi dalam bentuk barang yang tidak termakan inflasi.
Beternak domba adalah cara berinvestasi yang sangat murah, kalau kita tidak memiliki waktu dan sumberdaya untuk mengurusnya, kita bisa bermitra dengan saudara kita yang kurang mampu (bagi hasil atau maparo), selain kita menciptakan lapangan kerja baru, sekaligus membantu memberdayakan saudara kira yang kurang beruntung. Aatu dengan niat, berinvestasi sambil beribadah (Insya Alloh), mudah mudahan akan mendatangkan keberkahan dikedua belah pihak.
Investasi Vs Resiko: Tentunnya setiap usaha pasti memiliki resiko, menabung di Bank saja bisa dibawa kabur sama pemilik Banknya. Tapi tentu kita harus punya keyakinan yang kuat selama usaha yang akan kita jalankan mempunyai tujuan yang baik, mengikuti aturan main yang sehat, dibenarkan secara Syar'i maka yakinlah Insya Alloh hasilnya sesuai yang diharapkan.
Memelihara domba, selain bisa mendatangkan untung (melebihi kalau menyimpan uang di Bank), juga mempunyai dimensi sosial, dan yang lebih penting juga memiliki filosofi yang tinggi (hampir sebagian para Nabi dan Rasul Alloh adalah melakukan aktivitas beternak domba), dari dimensi ekonomi sudah pasti merupakan model investasi bebas Riba dan Jebakan inflasi.
