Minggu, 05 Juni 2011

Logika Harga Ayam


Sudah hampir satu semester berjalan sejak akhir tahun 2010 hingga saat ini harga ayam broiler masih merangkak dibawah harga produksi, logika apakah yang bisa dipakai untuk menjelaskan fenomena ini?  bagaimana situasi ini bisa berlangsung sekian lama, masih mampukah pelaku budidaya bertahan pada kondisi yang sulit seperti ini dan yang lebih penting adalah sampai kapan kondisi ini akan berakhir?

Tak mudah untuk bisa memahami atas situasi yang secara logika sulit sekali untuk dinalar, beberapa praduga mungkin muncul dalam benak kita masing  masing.  Dalam bahasa sederhana , biasanya faktor harga dipengaruhi oleh kondisi supply and demand.

Benarkah minat mengkonsumsi daging ayam telah menurun dimasyarakat kita, ataukah faktor daya beli yang rendah sehingga ibu ibu tidak sanggup lagi membeli daging ayam. Kalau melihat harga ditingkat eceran yang masih tinggi berkisar 22 sampai 24 ribu/kg dan harga ini relatif stabil sepanjang satu semester ini, berarti daya beli tidak turun? dan kalau memang ada over supply mestinya harga dipasaran akan turun drastis (hukum supply demand).

Terdapat gap yang cukup nyata antara harga live birds di tingkat peternak (kandang) dengan harga beli di tinggakat pasar (masyarakat). Ada pihak yang sangat diuntungkan oleh situasai ini , dimana terdapat perbedaan harga yang sangat tajam antara harga dikandang dan harga di pasar.

Peternak dalam hal ini sungguh tak berdaya melawan mekanisme pasar yang tidak adil. Karena mekanisme harga tidak lagi ditentukan oleh kedua belah pihak yang  berdasarkan asas saling menguntungkan dan berkeadilan.

Mari kita mencoba berlogika atas situsi yang terjadi saat ini:

1. Apakah produksi broiler saat ini sudah over supply, diasumsikan produksi broiler 30 Juta ekor/minggu - 6% mortality  x 1,5 Kg = 42 Juta Kg x 70% karkas saja = 29,4 Juta kg kalau dibagi dengan 200 juta penduduk = kira kira 150 gram/minggu x 52 minggu= 7.9 kg/kapita/tahun.=>189 rb/tahun

2. Fakta lainnya, Ada sekitar 20 Juta orang yang membeli sepeda motor secara kredit dengan mencicil setiap bulan rp 400 ribu/bulan.=> 4.8 jt/thn

3. Ada sekitar 50 juta perokok aktif dengan belanja rokok perbulan kira kira Rp 200 rb/bulan.= 1.2 jt/thn

4. Ada sekitar 100 juta pengguna telepon selular di Indonesia dengan belanja pulsa rata rata rp 50 rb/bulan.=> 600 Rb/thn

5. Kebutuhan untuk cicilan sepeda motor, lebih mengutamkan belanja untuk rokok dan pulsa menghabiskan sebagian besar penghasilan dikalangan kebanyakan masyarakat kita. Sedangkan bila dilihat dari total pengeluaran untuk kebutuhan protein (daging ayam) adalah post pengeluaran paling rendah (189 ribu/tahun).

Benarkah daya beli masyarakat kita yang rendah, ataukah harga daging broiler kita yang masih mahal, ataukah kita sudah over supply, atau mungkin sebagian masyarakat kita masih berfikir bahwa pemenuhan gizi yang cukup tidak lebih penting dari mencicil motor, tetap merokok meski sangat jauh dari manfaat dan hidup sehat, atau yang penting tetap exist dan on line terus walau harus mengorbankan kebutuhan pokok yang lebih utama dibanding sekedar memenuhi gaya hidup???  yang penting beli pulsa meski harus kekurangan protein.

Ilustrasi Gamabar: Disalah satu mall ternama, orang antri untuk mendapatkan durian ex import, sementara daging ayam sepi peminat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar